Kamis, 5 Nov 2026
light_mode
Beranda » Berita » Dari Jalan Rusak hingga Peluang Kerja, Ini Suara Warga Anggrek Sari Batam kepada Aman

Dari Jalan Rusak hingga Peluang Kerja, Ini Suara Warga Anggrek Sari Batam kepada Aman

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
  • print Cetak

Sabtu malam, 15 Agustus 2026, Perumahan Anggrek Sari di Kelurahan Taman Baloi, Kecamatan Batam Kota, Kota Batam, bukan sekadar menjadi tempat berkumpul warga. Di sana, percakapan tentang pembangunan menemukan jalannya sendiri.

Dalam reses Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Aman, S.Pd, MM, warga Anggrek Sari menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan aspirasi, usulan, hingga persoalan yang mereka hadapi setiap hari. Suasana pertemuan berlangsung terbuka.

Bagi Imron, Ketua RT 06 Alexandria Anggrek Sari, persoalan itu terlihat dari sesuatu yang setiap hari dilewati warga, yakni jalan. Sebagian ruas jalan di lingkungannya mulai rusak. Aspal yang dahulunya mulus kini mulai tergerus. Ia berharap pemerintah daerah memberikan perhatian melalui pengaspalan ulang atau overlay.

“Jika memungkinkan kami minta bantuan untuk pengaspalan ulang atau overlay jalan di Alexandria,” kata Imron.

Aman menampung aspirasi tersebut. Namun, ia menyampaikan bahwa realisasinya membutuhkan waktu, karena usulan harus masuk ke dalam mekanisme perencanaan dan penganggaran pemerintah daerah.

“Realisasinya paling cepat di APBD Perubahan tahun depan (2027) atau di APBD murni 2028. Nah, itulah yang butuh kesabaran,” ujarnya.

Berbeda dengan Imron, Ketua RT 04, Arman, mengusulkan pembangunan pendopo yang lebih representatif. Menurut Arman, pendopo itu dapat menjadi ruang bertemu, tempat warga duduk bersama, berbincang, berdiskusi, dan yang paling penting, menjadi ruang bagi generasi muda untuk berinteraksi.

“Maka kami mengusulkan pembangunan pendopo yang lebih representatif sehingga menjadi sarana bagi generasi muda kita bersosialisasi, berkumpul, dan berdiskusi,” ujarnya.

Ada kekhawatiran yang menyertai usulan tersebut. Anak-anak muda semakin dekat dengan gawai. Dunia mereka bisa berada dalam genggaman tangan, tetapi jarak dengan lingkungan sekitar justru bisa semakin jauh.

Karena itu, sebuah pendopo sederhana dapat memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar bangunan. Ia bisa menjadi tempat anak-anak muda kembali bertemu dengan dunia nyata, bertatap muka, berdiskusi, dan bercerita.

Warga lainnya, Andrian juga membawa persoalan yang berbeda. Ia berbicara tentang pekerjaan.

Batam tumbuh sebagai kawasan dengan aktivitas industri dan ekonomi yang besar. Pabrik, kawasan industri, perusahaan jasa, hingga berbagai sektor ekonomi membutuhkan tenaga kerja.

Namun, masyarakat lokal membutuhkan dukungan untuk meningkatkan kompetensi agar mampu bersaing mendapatkan pekerjaan sesuai kebutuhan industri. Persoalannya bukan hanya ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga akses terhadap informasi pelatihan, sertifikasi, serta kebutuhan tenaga kerja di dunia industri.

“Selama ini kami kesulitan untuk mengakses informasi pelatihan dan sertifikasi yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Di mana kami dapat mengaksesnya?” ujar Andrian.

Aman menjelaskan, program pelatihan peningkatan keterampilan dan kompetensi tenaga kerja telah dialokasikan setiap tahun melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Batam maupun Kepri. Namun, menurutnya, persoalan yang masih perlu dibenahi adalah penyebaran informasi kepada masyarakat.

Aman selalu mendorong Disnaker agar informasi mengenai program pelatihan tidak hanya disampaikan secara terbatas, tetapi diteruskan hingga ke tingkat kelurahan, RT, dan RW.

“Setelah saya cek, memang jumlah pendaftarnya itu banyak sekali. Hanya saja kadang-kadang informasi ini tidak sampai ke masyarakat kita. Harusnya informasi ini diteruskan ke kelurahan-kelurahan untuk disampaikan ke RT dan RW,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Aman juga menyoroti kebutuhan transportasi bagi pelajar di Batam. Selama ini, tidak adanya pilihan transportasi justru mendorong anak sekolah menggunakan sepeda motor sendiri.

Di satu sisi, ada larangan membawa kendaraan sendiri. Di sisi lain, alternatif transportasi yang secara khusus memudahkan anak-anak menuju sekolah belum tersedia sebagaimana yang diharapkan.

“Kita melarang sesungguhnya. Tapi masalahnya sampai sekarang, Pemko Batam belum menyediakan fasilitas transportasi umum yang bisa dimanfaatkan oleh anak-anak kita langsung mengakses sekolah-sekolahnya. Ini yang menjadi masalah sampai hari ini,” ujarnya.

Ketua RW 15 Anggrek Sari, Agus Andriyanto, mengatakan Aman bukan sosok yang asing bagi warga sekitar. Menurutnya, Aman telah memberikan kontribusi positif bagi lingkungan Anggrek Sari.

“Bapak Aman ini bukanlah orang baru dan bukan tidak kenal. InsyaAllah warga Anggrek Sari juga mengenal, begitu juga ada kontribusi yang positif kepada lingkungan Anggrek Sari,” ujarnya.

Bagi Aman, reses menjadi momentum untuk memetakan persoalan dari tingkat lingkungan sebelum dibawa ke ruang pembahasan kebijakan di DPRD. Setiap aspirasi masyarakat merupakan bagian dari proses kerja DPRD melalui pokok-pokok pikiran atau Pokir.

“DPRD itu mempunyai Pokir, pokok-pokok pikiran, hasil DPRD turun menemui masyarakat seperti ini, reses atau berkunjung ke masyarakat. Kemudian masyarakat menyampaikan aspirasinya. Aspirasi itu diakomodir oleh DPRD, disampaikan dalam sidang-sidang paripurna dan rapat bersama OPD, untuk kemudian menjadi bagian dari perencanaan pembangunan daerah,” ujarnya.

Bagi Aman, sebagai anggota Komisi IV DPRD Kepri yang membidangi SDM dan kesejahteraan masyarakat, aspirasi tersebut menjadi bagian dari bahan untuk menjalankan fungsi DPRD dalam pembahasan program pembangunan, penyusunan peraturan daerah, pengawasan, dan penganggaran. Aman adalah Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang terpilih sebagai anggota DPRD Kepri periode 2024-2029 dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kepri 4 atau Batam A, yang meliputi Kecamatan Batam Kota, Bengkong, Batu Ampar, dan Lubukbaja. (*)

  • Penulis: Admin
expand_less