Rabu, 4 Nov 2026
light_mode
Beranda » Berita » Panjat Tebing Dicoret dari SEA Games 2027, Anggota DPR dari PKB Protes

Panjat Tebing Dicoret dari SEA Games 2027, Anggota DPR dari PKB Protes

  • account_circle Setiawan
  • calendar_month 12 jam yang lalu
  • print Cetak

JAKARTA – Keputusan Malaysia selaku tuan rumah SEA Games 2027 yang tidak memasukkan cabang olahraga (cabor) panjat tebing dalam daftar pertandingan menuai perhatian. Anggota Komisi X DPR RI, Andi Muawiyah Ramly atau yang akrab disapa Amure, menyayangkan keputusan tersebut.

Menurut Amure, panjat tebing merupakan salah satu cabang olahraga andalan Indonesia yang telah mencatatkan prestasi di tingkat internasional. Karena itu, absennya cabor tersebut dalam SEA Games 2027 dinilai perlu menjadi perhatian.

Ia mencontohkan pencapaian kontingen Indonesia pada SEA Games 2025 di Thailand. Saat itu, atlet panjat tebing Indonesia berhasil menyumbangkan empat medali emas.

Baca juga: Bukan Barang Mewah! Politisi PKB Minta Pemerintah Tak Bebani Perempuan dengan Pajak Pembalut

Amure menilai pencapaian tersebut menunjukkan kontribusi panjat tebing dalam perolehan prestasi olahraga Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Ia pun meminta Malaysia mempertimbangkan kembali keputusan untuk tidak mempertandingkan cabang olahraga tersebut. Menurutnya, keberadaan panjat tebing penting untuk menjaga kesempatan atlet berkompetisi sekaligus mendukung pembinaan olahraga di kawasan Asia Tenggara.

“Jangan sampai panjat tebing justru dihilangkan dari SEA Games 2027. Ini olahraga yang memiliki banyak penggemar dan atlet potensial, termasuk di Indonesia. Prestasi Indonesia di SEA Games sebelumnya sudah menunjukkan bahwa cabang ini memiliki daya saing yang sangat baik,” ujar Amure di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Ia menegaskan, panjat tebing bukan olahraga yang hanya populer di kalangan atlet profesional. Olahraga ini juga berkembang pesat di tengah masyarakat, terutama generasi muda. Bahkan, berbagai perguruan tinggi telah memiliki komunitas, unit kegiatan mahasiswa, hingga fasilitas panjat tebing sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa.

“Kalau kita melihat di kampus-kampus, panjat tebing ini sangat populer. Banyak mahasiswa yang menggemarinya dan menjadikannya sebagai kegiatan olahraga sekaligus wadah prestasi. Artinya, basis penggemar dan regenerasi atletnya sangat nyata,” tegas Pendiri PKB itu.

Menurut Amure, penyelenggaraan SEA Games seharusnya tidak semata-mata mempertimbangkan kepentingan tuan rumah, tetapi juga memperhatikan keberagaman cabang olahraga yang berkembang dan memiliki basis atlet di negara-negara Asia Tenggara.

“SEA Games adalah pesta olahraga negara-negara Asia Tenggara. Semestinya ada semangat untuk memberikan ruang kompetisi seluas-luasnya bagi cabang olahraga yang berkembang di kawasan ini. Jangan sampai cabang olahraga yang punya prestasi dan penggemar justru kehilangan panggung,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan kompetisi internasional seperti SEA Games memiliki arti penting bagi pembinaan atlet. Ajang tersebut menjadi ruang bagi atlet untuk mengukur kemampuan, meningkatkan pengalaman bertanding, serta mempersiapkan diri menghadapi kejuaraan yang lebih tinggi, termasuk Asian Games dan Olimpiade.

“Jangan hanya melihat dari sisi penyelenggaraan atau kepentingan tuan rumah. Pikirkan juga masa depan atlet. Mereka membutuhkan kompetisi yang berjenjang dan berkelanjutan. Jika ruang kompetisinya semakin terbatas, tentu akan berdampak pada pembinaan dan motivasi atlet,” lanjutnya.

Karena itu, Amure meminta Malaysia membuka ruang dialog dengan negara-negara peserta dan federasi olahraga terkait untuk mempertimbangkan kembali keputusan tersebut. Ia berharap panjat tebing tetap menjadi bagian dari SEA Games 2027.

“Malaysia saya harap segera meninjau ulang keputusan ini. Masukkan kembali panjat tebing sebagai cabang pertandingan. Ini bukan semata-mata kepentingan Indonesia, tetapi juga kepentingan pembinaan olahraga dan kesempatan berprestasi bagi atlet-atlet Asia Tenggara,” pungkasnya. (*)

  • Penulis: Setiawan
expand_less